Bunga Liar : Romantika Sejarah Jepang di Amerika Serikat

Judul Buku : Weedflower – Bunga Liar.
Penulis : Cynthia Kadohata
ISBN : 9789792240887
Alih Bahasa : Lanny Murtihardjana
Halaman : 272 Hal.
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tahun Terbit : Oktober 2008
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Kembali saya harus tertambat hati pada novel yang satu ini.  Awalnya, lumayan gambling  juga.   Kok, gambling ?  Iya.  Membaca karya terjemahan atau alih bahasa itu menurut saya jadi seperti gambling.  Sewaktu membaca sinopsisnya di sampul belakang, cerita yang diangkat nampak sangat menarik untuk dinikmati.  Begitu segel plastik dibuka..dan mulai membaca.. Ampun ! Saya harus berjibaku dengan bahasa Indonesia terjemahan dari novel tersebut yang entah penterjemahnya siapa.  Benar-benar pengalaman pahit.
Tapi untuk terbitan Gramedia, jarang novel alih bahasa bernasib ‘sulit cerna’.  Jempol, deh !

Novel Weedflower (Bunga Liar) ini mengisahkan tentang peperangan antara Jepang & Amerika Serikat dengan sasaran  Pearl Harbour sebagai target serangan.

Tokoh sentral (dimana cerita berjalan sebagaimana sudut pandang Tokoh sentral ini), yaitu Sumiko berumur 12 tahun.  Gadis Jepang, yatim piatu namun lahir di Amerika dan bersama adik laki-lakinya Takiko (Tak Tak) ini hidup bersama keluarga paman & bibinya.  Bersetting di Amerika Serikat tepatnya California, di sebuah perkebunan bunga.  Sumiko tidak banyak memiliki teman.  Ia pun bersekolah di sekolah umum bukan di sekolah berbahasa Jepang.  Namun wujud fisiknya yang ‘Japs’ (sebutan untuk warganegara AS yang berkebangsaan Jepang) tetap saja membuatnya ‘sendiri’ dan ‘terpisah’ di sekolah.   Hal ini tergambar, saat Sumiko hadir di pesta ulang tahun Marsha, teman sekelas (namun tidak akrab) dan ia akhirnya harus keluar dari pesta itu berhubung ibunya Marsha mengusirnya secara halus, hanya karena ia seorang Jap.  Memang Jap tidak dibully, tapi tidak diakrabi.

Disusul kemudian keterkejutan Sumiko melihat perubahan sikap paman & bibinya yang menyuruhnya membakar segala hal berbau Jepang.  Buku tulisnya yang  penuh tulisan huruf Kanji pun harus dibakar.  Ini sangat menyebalkan !  Sudah capek latihan menulis ternyata hasil latihan yang tertulis di buku itu malah harus dibakar !  Selain itu ternyata para Jap selalu diawasi gerak-geriknya saat itu oleh pemerintah AS.  Awalnya Sumiko menganggap hal ini tak akan terjadi.  Apalagi ia lahir dan tinggal di Amerika. Tak ada bayangan sedikit pun terbersit bahwa akhirnya paman & kakeknya kemudian ditangkap oleh pihak keamanan AS walaupun tanpa ada kesalahan apa-apa dan mereka ditempatkan di North Dakota. Lalu bibi, sepupu serta Sumiko & Tak Tak akhirnya turut diungsikan ke kamp gara-gara perang antara Jepang & AS ini. Awalnya mereka ditempatkan di Gelanggang Pacuan Kuda San Carlos yang dijadikan sebagai kamp.  Lalu dialihkan ke sebuah kamp di Poston, Arizona yang berdekatan dengan daerah konservasi Indian.  Namun, ternyata sebenarnya tanah yang dijadikan kamp untuk Jap tersebut adalah tanah milik Indian.

Serunya, karena berdekatan dengan daerah konservasi Indian justru Sumiko akhirnya bersahabat dengan Frank, anak Indian yang seumur dengannya dan berasal dari suku Mohave.  Padahal, berbeda etnis saat itu memicu konflik ‘benci’.  Kulit putih benci Indian & Jepang, begitu juga sebaliknya.  Namun, Indian & Jepang  juga saling membenci.  Hal ini tergambar pada dialog antara Sumiko & Sachi, dimana Sachi ‘membohongi’ Sumiko , hal. 130 “Kalau mereka sampai menangkap kita, mereka akan menguliti kepala kita.”  ” Setelah menguliti kepala kita, mereka akan memotong jari-jari kita dan merebusnya.”

Di akhir cerita, Amerika pun memberi perintah untuk ‘bela negara’.  Para Jap & Indian yang merupakan warganegara AS pun akhirnya turut serta. Kehidupan Sumiko di Kamp Poston pun harus berakhir, karena ada perpindahan kamp.  Padahal, kamp Poston saat itu telah asri dengan berbagai kebun yang dibuat oleh warga kamp termasuk Sumiko yang membuat kebun bunga dari benih ‘Bunga Sumiko’ demikian tulisan pada amplop benih, yang ia dapat dari persediaan benih bunga milik pamannya. Namun, bibi Sumiko memutuskan untuk pergi ke Illinois daripada pindah kamp.  Sedangkan kedua sepupu Sumiko, Bull & Ichiro, mereka ikut wajib militer yang diserukan oleh pemerintah AS.  Sumiko & Tak Tak pun harus berpisah dengan Frank, sahabat Indian mereka.

Setelah membaca buku ini, saya jadi bertanya… “Kapan versi filmnya akan dibuat ya ?”  Kalau pun ada filmnya, semoga sebagus novelnya.  I wish & I hope 🙂

Yap,novel ini sangat menarik, karena Cynthia Kadohata, sang pengarang mampu merangkai kisah melalui riset serius tentang diserangnya Pearl Harbour di tahun 1941 oleh Jepang.  Ya, patut saja ia mendapatkan Newberry Award, karena novel yang ia karang ini dalam versi aslinya adalah bestseller international.

Advertisements

SPIRIT HAJI SPIRIT PERJUANGAN TEGAKNYA SYARIAH

 

 

 

 

 

 

 

Labaik Allahumma Labaaik, Labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalak

Kalimat talbiyah kembali akan berkumandang pada bulan Dzulhijah ini di seantero Makkah Al Mukarramah.  Dimana arti dari kalimat talbiyahtersebut adalah Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu.

Seluruh kaum muslimin yang beruntung memenuhi panggilan ke Baitullah mengumandangkannya.  Spirit ukhuwah Islamiyah begitu terasa.  Tak ada hari yang terlewatkan kecuali dalam kondisi tak berdaya untuk selalu menunaikan ibadah mahdhah di Masjidil Haram. Continue reading

Karena Bercerita itu Menyenangkan

Dear dede Takita,

Maaf ya, baru bisa balas surat dede nih.  Kalo kerjaan di rumah ada yang bisa ditunda atau udah kelar dikerjain, baru deh bisa nulis.

Nah, kalo tentang bercerita.  Hiks, ayah gak pernah sama sekali bercerita sewaktu kakak masih kecil dulu.  Kalau ibu ? Kadang-kadang aja.  Itu pun akhirnya digantikan oleh kaset-kaset yang isinya cerita semua.  Aku inget banget. 1 kaset cerita idolaku adalah cerita Cinderella, si Upik Abu.  Ampe puyeng kali tu kaset ya diputer berulang-ulang.  Nah, setelah itu begitu aku udah pinter baca ternyata buku-buku cerita itu lebih menarik untuk dibaca.  Bahkan sampai aku tertidur.  Mulai cerita daerah sampai cerita di negeri eropa dan negeri 1001 malam aku santap.  Bawang Putih & Bawang Merah, Sangkuriang, Keong Mas, Nalau & Kilip, Si Tudung Merah, Putri Salju & Tujuh Kurcaci, Pinokio, Aladin, juga kisah para Shahabat Rasulullah dan lain-lain.

Hmm… jadi ya seperti itu Takita tentang kehidupan kakak.  Kenapa jadi  ayah dan ibu juga kakek dan nenek jarang bahkan tidak pernah bercerita untuk kakak ?  Mungkin karena mereka merasa sulit, merasa aneh dan merasa tidak bisa berkreasi untuk menghibur anak-anaknya dengan cerita yang mendidik.  Begitu ada produk-produk seperti kaset & buku juga film yang berisi cerita-cerita anak, akhirnya, mereka mencukupkan diri dengan menggunakan produk tersebut.

Dari surat dede Takita, mudah-mudahan kakak bisa memulai kembali acara bercerita untuk anak kakak.  Tidak ada kata terlambat bukan ? Makasih ya dede untuk suratnya.. Sudah mengingatkan pentingnya bercerita dalam kehidupan  kita semua.  Karena bercerita bahkan mendengarkannya pun sebenarnya menyenangkan !  Bikin imajinasi melayang bebas.

#BigHUG for Takita

Mia Yunita (Banjarmasin)

http://blog.indonesiabercerita.org/takita/surat-dari-takita-mimpi-mimpi-takita/

Jeddah Trip

7 -8 April 2012

Hari-hari terakhir kami berada di Mekah Al Mukarammah.  Sempat tercetus di dalam hati, coba andaikan begitu tiba di Jeddah jangan hanya lewat begitu saja. Andaikan 1 hari saja bisa ‘spend a day round in Jeddah’.  Terlintas dalam hati, menjadi doa dan ternyata menjadi KENYATAAN !!!

Akhirnya, bada’ zhuhur  kami pun meninggalkan Mekah menuju Jeddah.  Bener-bener sedih.  The last day.  Apalagi di Jeddah hanya tour city sebentar, ke ‘mesjid terapung’ – Laut Merah & Corniche Street (singgah sebentar di Ali Murah dan sekitarnya).  Perjalanan pun dimulai.. eng ing eng 🙂

Perjalanan Mekkah-Jeddah gak terlalu makan waktu banyak. Sekitar 2-3 jam.  Sesampai di Jeddah pas waktu Ashar, kami disinggahkan di Corniche Street.  Ya, liat-liat Al-Ballad trus shopping dikit deh di  Ali Murah & Ghani Murah.  Kalo masalah harga, ya begitu lah.  Ntar dicerita’in lagi masalah ‘shopping’ ini yah J

Begitu kelar di Corniche Street kami pun disinggahkan di mesjid terapung- Laut Merah.

Berhubung hari itu hari Jum’at, jadi banyak penduduk yang menghabiskan hari libur dengan berwisata di tepi laut.  Foto-foto aaahh.. Bener-bener pemandangannya indah deh :).  Sempet-sempetnya nyicip jagung bakar ala ‘sono’.  Jagungnya dibakar tanpa bumbu.  Udah gitu cuma dikasih garam, yang dibungkus terpisah, kalo mau ada rasa di jagung bakarnya.  Nah, yang unik lagi tu yang jual jagung bakar lari-lari ama gerobak sorongnya begitu liat ada semacam petugas ‘tramtib’.  Oh, berarti jualannya ilegal dong, Mas ? Waduuh..  Selain jualan jagung bakar, ada juga yang melayani tato henna.. pengen sih, cuma buat natonya ternyata bergantian dengan alat yang itu-itu juga.  Yaelaah..

Begitu kelar habisin waktu di tepi laut.  Mutawif kami cerita kalo.. ternyata.. pesawat di delay.  Jadi, malam gak jadi pulang ke Indonesia. Horeee !!! Lho, kok hore ? Ya, hore !!  Kapan lagi ngabisin waktu di Jeddah ?? Kalo memang ada rejeki ya bisa, tapi kapan lagi, ya kan ?  Iya, dong ! Continue reading

RESIGN

 

Alhamdulillah.  Mengucap syukur kepada Allah SWT akhirnya permohonan resign yang saya ajukan kepada pimpinan dikabulkan.  Berproses memang.  Kira-kira 1 bulanan.  Dan kini saya sudah non-aktif dari PTS kampus tempat saya bekerja.

Banyak yang menyayangkan saya  berhenti bekerja.  Termasuk ayah saya.  Wajar.  Bagi yang menyayangkan hal ini disebabkan faktor : ZONA NYAMAN.  Tiap bulan pasti dapet gaji.  Tiap event ada insentif.  Kurang apalagi ? Diumrohin udah. Ckckckck… Hahahaha 😀

Oke.  Bagi yang bertanya kenapa saya RESIGN ?  Jawabannya simpel :  “saya udah salah tempat aja milih jadi karyawan.” Wrong choice.  Nah, karena masih dikasih kesempatan untuk memilih, oke terima kasih saya pun resign.  Dan dengan berhentinya saya menjadi Ibu Pekerja.  Kini saya kembali ke kodrat sejati hehehe .. yaitu menjadi Ibu Rumah Tangga.

Maka, biarkan saya menebus waktu-waktu yang telah saya habiskan di kampus untuk mengurusi seabrek tugas dengan kembali ke rumah untuk fokus mengurus anak saya & rumah tangga.  Biarkan saya menebus waktu-waktu yang telah terkuras dalam aktifitas kerja dengan kembali ke tugas publik saya yaitu sebagai aktivis muslimah di Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.  Biarkan saya menebus waktu-waktu yang telah habis untuk beristirahat saking penatnya dalam bekerja dengan zikir, shalat nafilah juga aktifitas sosial berbagi dengan sesama.  Biarkan saya meraih rizki Allah dari jalur yang tidak mengorbankan tugas utama saya sebagai pengatur & pengurus rumah tangga.  Semoga pendamping hidup saya selalu diberi keselamatan dan berkah yang tak terhingga dari Allah SWT atas pelaksanaan tugasnya sebagai pemimpin rumah tangga & menghidupi anak-istri dengan nafkah yang halal.

Dan aktivitas saya saat ini : mengurus rumah tangga tentunya, kembali coaching & menjadi freelance writer, buka online shop di soc-med & blog www.balanjachantiq.blogspot.com

http://www.facebook.com/pages/Balanja-Chantiq/329523340515?ref=hl

dan mulai tertarik untuk bercocok tanam tanaman sayur di dalam pot (kan eike lulusan fakultas pertanian..hehehe)

-End-

PS :

Buat para wanita yang juga pekerja, jangan tersinggung dengan tulisan saya.  Bila anda bisa mengatur waktu dengan kesibukan anda, Subhanallah.  Mungkin saya tidak sepandai anda.  Bila anda memang sangat memerlukan tambahan biaya, semoga Allah mencukupkan rizki untukmu & keluargamu.  Bila ilmu yang anda miliki harus diaplikasikan dalam profesi, semoga tidak mengganggu rumah tanggamu, kesehatanmu juga kewajiban dakwahmu . Amin.

#BBSM Banjarmasin – Buka Bersama Sobat Motty

Akhirnya…

Terpilih juga Jenderal baru u. Sobat Motty (follower akun @MotivaTweet di Twitter) daerah Banjarmasin yaitu Rio (yang berkecimpung di B.R.A.I.N EO).  Loh, jenderal yang dulu mana ?  Berhubung sedang hamil besar, jadi Desyi menyerahkan pimpinan Jenderal kepada Rio.  Tapi at the show, kami tetap ada kok :).

So, ditetapkanlah tanggal 4 Agustus 2012 buat ngegelar BBSM ini (tepat bulan Ramadhan)- jadi BBSM selalu bareng Bulan Ramadhan u.kedua kalinya.  Nah, berhubung yang jadi Jenderal adalah orang EO (B.R.A.I.N sebelumnya juga nge-gelar Seminar 7 Keajaiban Rejeki-nya Ippho Santosa di Banjarmasin loo !), selain itu Head Project BBSM kali ini yaitu Sistia Raisanty sebagai pengurus HIPMI Banjarmasin so pasti lah banyak kolega. Bisa dibilang, acara BBSM pun ada sponsornya trus para pengisi acaranya pun bukan sembarangan.   So, digawangi hampir 9 orang Sobat Motty plus relawan dari Rumah Zakat -thank you Mas Alfin :), jadi deh BBSM-nya bertempat di La Moge Centre (Rumah Kecantikan) – thank you mbak Putri (beliau banyak bantu kita mulai nyedian tempat dan segala macemnya sampe ngasih motivasi bisnis yang VERY VERY SEXY hahaha :D)

Nah, acara dibuka oleh MC mas Junaidi dengan menghadirkan mbak Intan H.P yang selain pengurus HIPMI Banjarmasin, dia juga dikenal sebagai MC-Penyiar Radio & Presenter TV ! Wah.. Bahkan dia memiliki Salon & Spa namanya Intan Salon & Spa. Nah, di BBSM 2012, sembari ngabuburit, mbak Intan kasih tips bisnis buat kita semua.  Doi cerita mulai awal merintis usaha dimana dulunya doi adalah pramugari Jatayu, namun lambat laun menjadi ‘diri sendiri’ !  Melejit dengan potensi yang beliau miliki. Kereen.. Kompor deh !!! Bikin panas yang belum resign hahaha 😀 Continue reading

Welcome to Makkah Al Mukarramah

Gambar

Berhubung sibuk minta ampun ditambah rasa malas yang berkepanjangan ( ?), akhirnya baru terupdate posting lanjutan perjalanan umroh.  Ya kemana lagi kalo bukan ke Mekah ?

Btw, perjalanan yang amat panjang mulai Madinah ke Mekah dengan bis lumayan membuat lelah.  Apalagi sebelumnya kami sudah mengambil miqat di Bir Ali, jadi otomatis kami dalam perjalanan menuju Mekah sudah dalam keadaan berihram.

Sesampai di Mekah, kondisi jalan sangat macet.  Kebetulan hotel kami terletak di daerah pasar (walaupun masuk gang  atau jalan kecil)/ Al-Misfalah tepatnya di Ibrahim Al Khalil Rd. Dan sepanjang jalan tersebut berdiri hotel-hotel dan toko-toko sampai ke gang-gang kecil. Juga proyek pembongkaran gedung-gedung karena ada megaproyek Jabal Omar yang bakal ngebangun hotel-hotel, apartemen, unit-unit komersil dll.  Pokoknya sekitar Masjidil Haram nantinya akan lebih ‘wah’ dan memudahkan para jama’ah dalam beribadah.  Trus,  kenapa macet ?  Berhubung malam itu (kami tiba tepat tengah malam), hampir bersamaan bis-bis yang mengangkut jamaah umroh dari berbeda travel dan negara juga sampai di Mekah.  Jadi ngantri nurunkan penumpang ke hotel-hotel tujuan.  Pendek cerita, begitu sampe di hotel barang-barang bagasi semua diletakkan dan berserakan di lobi hotel.  Dan jadilah kami bermain ‘temukan tas & kopermu’ ! Kebayang ya, udah capek minta ampun. Belum lagi sesuai skedul malam itu begitu nyampe hotel, seharusnya dilanjutkan makan malam yang tertunda kemudian langsung bertawaf & sai plus tahalul tapi kudu nyari barang – barang dulu dan ngegeret tu barang ke kamar.  Yuuk ! Cemungudh kaka !! Continue reading