Posted by: Mia Yunita on: 25 June 2010
Punya anak ? Atau keponakan ? Atau adik ? Tentunya yang masih usia sekolah.
Pernah dikagetkan oleh tingkah mereka yang tiba-tiba mogok sekolah ? Atau, maunya di halaman sekolah dan tidak mau masuk ke ruang kelas. Di kelas pun tidak bersemangat mengikuti pelajaran. Yup ! Ini dia School Phobia Syndrome. Takut sekolah !!! Padahal, kalau tidak di sekolah, mereka menunjukkan minat belajar yang tinggi. Begitu disuruh masuk sekolah, jadi melempem deh ibarat kerupuk disiram air. Brrr..klepek ! Klepek !
Alasan jadi tidak mau sekolah pun bermunculan sebagai dalil penguat dari mereka. Yang sekolahnya jelek lah, teman-temannya nakal lah, sakit ini itu, sampai vonis dari mulut mereka pun keluar : “Aku gak mau sekolah lagi !”
Tahan Emosi, Pelajari, Jalin Komunikasi
Bagi yang terbiasa makan bangku sekolah konvensional, tentunya tidak sekolah menjadi hal yang tabu. Aib sedunia ! Padahal apa salahnya bila tidak sekolah ?! Bukankah tidak sekolah tidak berarti berhenti belajar ? Lalu apa ada yang salah dengan sekolah-sekolah yang ada ? Hingga akhirnya ada anak-anak didik yang meronta dan tidak ingin belajar di sekolah.
Jadi, harus ambil langkah apa nih ?
Yup. Bagi ortu dari si mogok sekolah, harus tahan emosi dulu. Tahan & jaga sikap anda untuk tidak menghakimi, menindas, mengomeli kenapa anak sampai menolak, mogok & tidak lagi mau sekolah.
Mempelajari situasi & kondisi baik anak, sekolah, guru-guru & teman-teman si anak. Juga dengan sikap kita sebagai ortu selama ini terhadap aktivitas akademisnya, apa sudah baik , dalam artian tidak memforsir ataupun otoriter dan menakuti anak.
Contoh : Anak ternyata memiliki ortu yang jadi bahan ejekan teman-temannya. Bukan sebuah kesalahan kan kalo anak tidak mau sekolah karena ia jadi korban ejekan teman-temannya. Wali kelas yang seharusnya bisa menjadi penengah dalam permasalahan kelas walaupun tidak dalam kondisi belajar mengajar justru hanya angkat tangan dan mendiamkan sambil berkata , “Ah, biasalah anak-anak.” Padahal sudah seharusnya anak didiknya diberi pelajaran sopan-santun/akhlak karimah terhadap sesama temannya. Ortu para murid juga sudah seharusnya mengajarkan akhlak karimah kepada anak-anaknya.
Masih banyak contoh lain yang membuat anak enggan bersekolah, bisa jadi karena ia memang manja dan terbiasa ‘nyaman’ di rumah sehingga feel homesick selama di sekolah atau ia menjadi korban kekerasan dari guru atau teman-temannya. Sebaiknya sebelum anda mendaftarkan anak anda ke sebuah sekolah, walaupun itu sekolah favorit, sebaiknya dilihat dulu kondisi pergaulan antara guru-murid-ortu, murid-murid, guru-murid. Saya sempat melihat fenomena ‘bullying’ antara murid walaupun hanya meniru-niru adegan berkelahi, tapi itu justru membuat saya batal mendaftarkan anak saya di sekolah tersebut. Beda, kalau saya mencari dojo. Kalau di dojo itu ada fenomena ‘berkelahi’ pastinya mereka sedang latihan praktek jurus.
Dalam membina hubungan, komunikasi adalah hal yang terpenting. Begitu kita sudah memahami kira-kira kenapa jadi anak menolak sekolah, jangan pasang muka sangar kepada anak. Cukup diajak makan misalnya ke tempat-tempat yang rilek & mengkomunikasikan masa depan pendidikannya dengan bahasa yang ramah. Parents are friend ! Parents are not enemy.
Dari jalinan komunikasi yang pas dan lancar, mudah-mudahan anak kita bisa kita arahkan dan ia bisa memilih ingin mengikuti jalur pendidikan yang seperti apa. Tetap sekolah formal tapi kita sebagai ortu mendampingi dia di luar jam sekolah untuk ‘homeschooling’, it’s ok ! Atau tidak mengambil jalur sekolah formal, cukup dengan homeschooling, ok juga. Mengambil sekolah formal tapi formatnya berbeda dengan sekolah formal yang konvensional contohnya seperti sekolah alam, bukan masalah.
Yang penting, dia tetap mau belajar selama hidupnya.
The most important thing : di masa khilafah yang belum tegak hingga saat ini, anak kita masih bisa kita bina pembentukan akidah Islamnya. Sampai kemudian bisa terbentuk kepribadian Islami (syakhsiyah Islam) dalam diri mereka.
Finally, anak-anak kita tercipta untuk masa depan. Masa yang bukan masa kita kini. Sebagai orang tua tentunya kita harus mampu memprediksi bagaimana agar anak kita berdaya guna bagi umat & Islam di masanya nanti atau di masa depan yang belum tentu menjadi masa depannya namun ilmunya tetap mengalir sebagaimana para ulama yang tinggalkan dunia namun ilmunya tetap hidup sepanjang masa. Tidak hanya berujung pada pikiran gelar, karir & profit saja. Long live education ! Mogok belajar ? No way !
(foto dari :www.tabloidnova.com)
(an experience & a hope & a will, my parents, I hope u understand25’06’10)
klo udah selesai sekolahnya gimana…..hehehe
setuju….punya anak memang banyak masalahnya, termasuk masalah pendidikan, tapi itu sesuatu yg patut disyukuri bg para ortu agar mereka lebih bisa dewasa dalam menyikapi setiap masalahnya….anak adalah perhiasan terindah bg ortu dan kelak mnjdi pembuka kunci2 surga buat ortunya….amin
setuju….punya anak memang banyak masalahnya, termasuk masalah pendidikan, tapi itu sesuatu yg patut disyukuri bg para ortu agar mereka lebih bisa dewasa dalam menyikapi setiap masalahnya….anak adalah perhiasan terindah bg ortu dan kelak mnjdi pembuka kunci2 surga buat ortunya….amin
Salam persahabatan sebelumnya dari sesama blogger borneo. Kebetulan kali ini saya membutuhkan dukungan dari teman-teman sekalimantan untuk dapat memberikan dukungannya terhadap rekan kita Muhammad Irhamnya dimana blognya masuk dalam nominasi kontes blog internasional Borneo Colours Award 2010. Rekan kita ini merupakan satu-satunya wakil dari Kalimantan dan Indonesia sehingga support teman-teman sangat dibutuhkan disini. Untuk informasi mengenai teknis supportnya baca saja artikelnya di http://www.bloggerborneo.com/dukung-perwakilan-indonesia-di-borneo-colours-award/.
1 | fahrizal
25 June 2010 at 1:25 pm
itu tuh masalah ade saya … tapi biasanya kalo saya sih ngebujuk sma hal-hal yang bisa mbuatnya mrasa tersaingi …